Di Balik Momen Kelulusan SMA

June 13, 2008

Oleh: Agung Eka Nugraha

Kalo kita denger kata lulus yang biasanya terbayang pertama kali di kepala adalah menanggalkan atribut putih abu-abu yang telah tiga tahun kita kenakan. Selain itu biasanya ada juga acara corat – coret baju. Tapi sekarang hal seperti itu kayakna sudah makin jarang terjadi soalnya sekolah sudah mengakalinya dengan cara mengenakan pakaian adat saat pengumuman kelulusan. Selain acara coret–coret baju biasanya acara kelulusan ditandai acara makan–makan bareng teman, jalan-jalan, dan minum–minum. Mungkin semuanya sah–sah saja karena mungkin hanya saat itu mereka bisa berkumpul dengan teman–teman seangkatannya. Dan mereka biasanya menginginkan acara perpisahan yang mengesankan dan tidak akan terlupakan.

Tapi beberapa tahun terakhir, oleh remaja yang telah mempunyai pasangan alias pacar, masa masa kelulusan malah dijadikan masa–masa pelepasan keperawanan oleh kaum wanita (walaupun tidak semuanya seperti ini). Biasanya hal itu dikarenakan si wanita tidak dapat menahan rayuan gombal sang pacar dan momentnya dianggap pas pada saat itu.

Biasanya sesudah pengumuman kelulusan remaja–remaja yang sudah berpasangan akan melakukan kencan terakhir untuk menandai berakhirnya masa masa sekolah mereka. Saat itulah moment cinta buta dianggap pas oleh remaja saat ini. Hal ini juga tidak dapat dipisahkan dari kebiasaan hidup remaja yang sudah tidak terkontrol lagi. Banyak hal yang juga mempengaruhi wanita mau memberikan mahkota paling berharganya itu. Hal itu dikarenakan sang wanita takut, jika sudah lulus nanti sang pacar akan menjauh darinya karena keinginan sang lelaki tidak dipenuhi.

Ini salah satu buktinya. Beberapa tahun lalu, di sebuah bungalow di kawasan sanur sepasang remaja ditangkap polisi karena ketahuan melakukan pesta seks. Mereka ditangkap kerena masih memakai atribut pakaian sekolah. Tak tanggung–tanggung sekolah mereka merupakan salah satu SMU negeri favorit di kota denpasar.

Terlepas dari salah satu contoh kejadian nyata diatas, bisa dijadikan cerminan bagaimana tingkah polah remaja saat ini. Ada apa gerangan remaja sekarang??



Generasi Yang Tersingkirkan, Generasi Yang Terpuruk Dalam Sebuah Imagi Kebangkitan

May 22, 2008

oleh MASHADI

“Manusia menciptakan sejarah, tetapi sejarah yang diciptakannya itu memaksa manusia untuk berlari mengikuti sejarah yang diciptakannya tanpa mampu merubahnya” sebuah kutipan yang saya ambil dari ucapan Marx tentang sejarah manusia akan membuka tulisan singkat mengenai sebuah generasi yang tersingkirkan, generasi yang terpuruk dalam sebuah imagi kebangkitan.

Baru baru ini kita sebagai suatu bangsa memperingati sebuah moment agung penentu arah sejarah bangsa, kebangkitan nasional yang diperingati setiap tanggal 20 Mei sebagai prasasti kebangkitan sebuah bangsa, Bangsa Indonesia. Dalam momen peringatan sebuah sejarah ini kita menyaksikan bersama bagaimana upaya pemerintah untuk mendongkrak sebuah semangat, asa, harapan dan cita cita bangsa yang kian terseret arus keterpurukan. Sebuah acara dengan penuh gebyar dan kemeriahan, senyum dan kebahagiaan (semu?),
didukung oleh ribuan partisipan dari seluruh pelosok negeri yang diharapkan mewakili seluruh elemen masyarakat dalam upaya mengimagikan sebuah semangat untuk bangkit. Tarian, lagu, puisi dan doa sebagai pralambang harapan, defile kekuatan yang terwakili dari olah gerak beladiri tradisional yang dilakukan oleh pengusung acara sebagai pralambang sebuah upaya dan ditambah dengan kata kata dan janji serta ajakan penyemangat lengkaplah sudah semua pralambang yang dibutuhkan dalam upaya mewujudkan kebangkitan.
Sebuah penggiringan pada kebenaran bersama, tetapi apalah arti dari itu semua? Jika diperbolehkan meminjam istilah Kierkegard, ritual dan seremonia kebangkitan yang diadakan malam 20 Mei 2008 adalah sebuah kondisi akan bangkit dan apa artinya akan bangkit jika kita tidak benar benar bangkit dengan bergerak secara nyata keseluruhan individu dan eksponen bangsa untuk benar benar bangkit, karena keputusan untuk bangkit sendiri berasal dari individu dan mengajak bangkit tidak dapat kita artikan sebagai bangkit itu sendiri. Read the rest of this entry »


Pacaran Sehat Biar Aman

May 14, 2008

by DWIYATHI

Remaja mengalami perubahan fisik dan psikis pada masa-masa yang dilaluinya, dimana remaja ingin mencoba karena terdorong rasa ingin tahu mereka yang tinggi, celakanya remaja ketika ingin mencoba hal baru tanpa dibekali suatu informasi yang oke, atau mereka hanya mengerti setengah-setengah mereka akan terjebak oleh apa yang mereka putuskan sendiri. Dimana pada saat ini remaja belum bisa mengambil keputusan, karena semua keputusan yang mereka ambil merupakan cerminan pencarian identitas diri mereka, yang masih mengagungkan egoisme remaja, merasa diri yang paling benar, dan beranggapan yang lain salah, sehingga hanya satu dua remaja saja yang mau menjalankan masukan dari orangtua. Read the rest of this entry »


KISARA Bantu Bentuk Remaja Bertanggung Jawab

May 13, 2008

by OLLAN

Pemberontak yang selalu ingin tahu!

Remaja cenderung memberontak dan suka menentang nilai dan norma di lingkungannya yang dinilai tidak sreg dengan darah muda yang menggebu-gebu. Di masa puber ini, remaja juga cenderung berpikir kritis. Larangan tanpa alasan yang logis adalah tembok penghalang yang irrasional yang harus digempur habis-habisan. Maka seringkali kita mendengar para orang tua atau guru mengeluhkan sikap remaja yang suka membangkang dan melawan orang tua, karena menurut persepsi mereka argumentasi orang tua ketika melarang tidaklah cukup kuat untuk mengunci rapat pikiran kritis remaja. Sayangnya, rasa ingin tahu dan pikiran kritis ini tidak dipuaskan dengan iinformasi yang benar oleh pihak-pihak terdekatnya. Sehingga, seringkali remaja membongkar arsip-arsip informasi yang belum jelas kebenarannya dan menelusuri akses informasi yang melewati kategori remaja, seperti misalnya situs-situs porno yang lebih banyak mengumbar aksi-aksi yang melahirkan mitos-mitos baru yang berdampak buruk bagi remaja.

Suka coba-coba untuk mengejar kebebasan!

Remaja identik denga masa pencarian jati diri, remaja selalu ingin mengeksplorasi diri seluas-luasnya dan sebebas-bebasnya! Remaja ingin bebas berekspresi dan bereksperimen dalam mengeksplorasi diri. Hampir semua jalan dicoba hanya untuk menjawab sebuah pertanyaan besar yang sangatlah mendasar dalam hidupnya, “siapa aku?”. Tidak jarang sifat suka coba-coba ini mengantarkan remaja ke arah negatif yang merugikan masa depannya, misalnya saja penyalahgunaan narkoba (drugs abuse), hubungan seks di usia remaja yang kemudian melahirkan segudang masalah baru bagi remaja seperti kehamilan tidak diinginkan (KTD), drop out dari sekolah karena hamil, pernikahan dini yang rentan konflik dan perceraian karena menikah tanpa kesiapan diri, aborsi, dan masih banyak lagi masalah yang menggauli remaja yang membuat remaja identik dengan “makhluk bermasalah”. Fenomena ini terjadi ketika remaja coba-coba mengejar kebebasan sampai kebablasan! Tanpa disertai pemahaman edukasi akan informasi yang benar dari pihak yang bertanggung jawab. Hingga saat ini belum ada akses informasi yang benar dan bertanggung jawab untuk remaja.

Kisara ada untuk Remaja!

Kisara (Kita Sayang Remaja) lahir pada 14 Mei 1994, sebagai bentuk keprihatinan terhadap remaja yang seringkali terjabak kasus terkait dengan kesehatan reproduksi seperti KTD, aborsi dan drugs abuse.Kisara lahir dibidani oleh tokoh seksolog kondang Prof. Wimpie Pangkahila dan dr. Mangku Karmaya, salah satu tokoh perintis PKBI (Perkumpulan Keluargra Berencana Indonesia) Daerah Bali, yang merupakan induk organisasi Kisara.Kisara merupakan organisasi yang peduli tehadap permasalahan remaja. Selama hampir 14 tahun lamanya Kisara mengemban visi-misi membentuk Remaja Bertanggung Jawab melalui pendekatan dari, oleh dan untuk remaja.Selain itu Kisara bersinergi dengan pihak lain dalam rangka upaya advokasi pendidikan kesehatan reproduksi remaja.Organisasi yang beralamatkan di Jalan Gatot Subroto IV No. 6 ini, sejak pertama kali didirikan merupakan Pusat Informasi Dan Konseling Remaja. Dalam upaya mencapai visi, Kisara mempunyai perpanjangan tangan dan kaki yang digerakkan oleh remaja berdaya, berupa program-program yang youth friendly 

Apa aja sich program andalan Kisara?

Konseling, menyediakan layanan konseling telepon, tatap muka, surat, e-mail, dan media. Remaja biasanya menelpon ke 0361-430200 untuk curhat segala macam permasalahan yang dihadapinya. Seringkali remaja menelepon untuk konseling setelah seksual aktif dan mencoba narkoba. Konselor yang melayani konseling adalah relawan remaja Kisara yang berusia 18-24 tahun, yang sudah dididik dan dilatih menjadi peer educator (pendidik sebaya).

Komunikasi dan Informasi, menyediakan dan melayani pemberian informasi terkait kesehatan reproduksi, HIV/AIDS, dan narkoba dengan pendekatan dari, oleh dan untuk remaja. Benar sekali, remaja cenderung lebih percaya pada rekan sebayanya daripada orang tua, untuk itu pemberian informasi yang diberikan juga dikemas dengan gaya remaja dan sangat youth friendly, yaitu melalui siaran talk show remaja di 3 radio lokal di Bali, yang dipandu oleh relawan remaja Kisara. Kisara juga menerima tawaran untuk talk show di TV, ceramah, penyuluhan, pelatihan, dan seminar.

Perekrutan dan Rumah Tangga, divisi yang bertanggung jawab mengadakan perekrutan relawan dan mengelola rumah tangga Kisara

Mobilisasi Relawan dan Kampanye, bertanggung jawab dalam mengadakan kampanye dan mengerahkan massa dalam upaya kampanye Kisara.

Youth Camp (Kemah Remaja), bertanggung jawab dalam mengelola aktifitas work camp (kemah kerja) remaja atas dasar kerjasama dengan IIWC (Indonesia International Work Camp). Work Camp ini biasa diikuti oleh remaja dari berbagai belahan dunia dalam rangka cultural exchange dan juga upaya networking di kancah internasional.

Sekilas tentang Dunia Remajaku Seru!

Selain kelima divisi inti tersebut, Kisara juga diperkuat oleh program DAKU! (Dunia Remajaku Seru!). Sebuah program kesehatan reproduksi yang berbasiskan hak-hak reproduksi remaja, dengan menggunakan teknologi informasi. Hingga kini sudah ada 9 sekolah yang mengimplementasikan program DAKU! Belajar kesehatan reproduksi jadi lebih asyiik dengan media DAKU!, tinggal di klik saja semua informasi yang dibutuhkan remaja akan segera dapat diakses. Saat ini Kisara bersama team advokasi sedang memperjuangkan supaya program DAKU! mendapat SK dari walikota Denpasar. Sehingga bisa menjadi media pembelajaran kespro di sekolah-sekolah. 

Integrated Youth Center

Sejak tahun 2007 Kisara telah gencar melakukan upaya penginventarisan kebutuhan remaja Bali. Upaya ini dibungkus dalam dua kali consultative meeting yang menghasilkan 135 kebutuhan remaja.Yang pada intinya remaja butuh shelter untuk menjadi “Rumah Remaja” yang menyediakan fasilitas untuk berdikusi, pelayanan kesehatan dan konseling, training dan upaya pemberdayaan remaja.Kemudian pada awal 2008 terbentuklah IYC (Intergrated Youth Center) atau yang lebih dikenal dengan sebutan Rumah Remaja. Ini merupakan hasil kerjasama Kisara dan Ford Foundation. Dimana program Rumah Remaja ini semakin memperkuat posisi Kisara sebagai Youth Center.

Rumah Remaja terbagi atas 3 Divisi Utama yang dipegang oleh para Senior Program Officer:

Education, Training and Empowerment, divisi yang bertanggung jawab dalam pemberian edukasi remaja melalui training bulanan yang diadakan untuki mencetak agen-agen peer educator baik di lingkup sekolah maupun komunitas remaja yang spesifik. Selain itu juga, Kisara akan mengadakan training untuk remaja yang kurang beruntung (yatim piatu, cacat, dsb) serta tidak ketinggalan training untuk para guru dan orang tua remaja yang sering gemas dengan tingkah laku remaja yang tidak bisa dipuaskan dahaga ingin tahunya begitu saja. Divisi ini juga mengadakan 2 o’clock class secara rutin setiap minggunya. Siapa saja dari mana saja bisa ikut gabung di 2 o’clock class ini.

Youth Health Services, divisi ini bertugas mengelola klinik remaja yang youth friendly, yang nanti rencananya akan memberikan pelayanan kesehatan bat remaja seperti: pelayanan kesehatan umum, konseling medis, VCT, dsb. Plus juga kelas diskusi kesehatan seperti: berat badan ideal buat remaja, kespro, seputar permasalahan kesehatan umum, dsb. Ini untuk membina pikiran kritis remaja terkait dengan kesehatan supaya lebih bertanggung jawab atas kesehatan dirinya.

Media, Research and Networking, divisi ini memperkuat upaya advokasi dan kampanye Kisara terutama di media-media dan juga mengadakan riset terkait masalah remaja . Divisi ini juga meningkatkan jejaring Kisara baik dalam lingkup lokal, nasional dan internasional. Selain itu juga mempublikasikan secara rutin release survey result remaja. Melalui divisi ini Kisara berjejaring dan bersinergi dengan pihak lain yang satu visi dengan Kisara untuk mendorong pemerintah menyediakan akses informasi kespro legal bagi remaja.

Benarkah remaja Cuma bawa penyakit??

Remaja selalu dianggap makhluk bermasalah dan Kisara berusaha menampik persepsi tersebut dengan memberdayakan remaja dan meyakini bahwa remaja punya peran solutif atas permasalahan yang ada. Remaja jangan Cuma dijadikan obyek tapi subyek yang punya peran krusial dalam pemecahan masalah.Keterlibatan remaja dalam proses pengambilan kebijakan yang berkaitan dengan remaja harus mulai diperhitungkan. Karena seringkali kebijakan yang diambil tidak memihak pada remaja.Dengan memenuhi hak remaja atas informasi, maka remaja yang teredukasi dengan informasi yang benar dan bertanggung jawab akan memiliki pemahaman yang tepat.  Sehingga dalam decision making remaja menjadi lebih matang dalam berpikir, memperhitungkan berbagai resiko dan konsekuensi logis dari setiap langkah yang diambil. Remaja baru bisa bertanggung jawab jika kita memenuhi hak-hak remaja.Tingginya kasus HIV di kalangan remaja dan remaja selalu menempati rangking tertinggi yang terinfeksi HIV, merupakan contoh miris dari tidak dipenuhinya hak remaja atas informasi yang benar. Apa jadinya Indonesia jika lebih dari setengah generasi mudanya terinfeksi HIV?  Remaja selalu dipersalahkan dan menjadi korban atas kemiskinan informasi dan terbatasnya akses informasi di negeri ini. Dan untuk itu Kisara hadir menjembatani keterbatasan yang ada, untuk ikut membantu pemerintah membentuk Remaja bertanggung jawab. Namun, tetap saja, pemerintahlah yang harus menyediakan akses legal untuk itu. 

Buat kamu remaja yang peduli terhadap sesama dan pengen bangkit dan berdaya, ayo gabung jadi relawan Kisara! Caranya gampang banget, cukup dateng ke sekretariat Kisara di Jl. Gatot Subroto IV No. 6 Gedung PKBI Lantai 3. Atau bisa telpon di hotline 430200. Mari ikut berjuang bersama Kita!


SITUASI KESEHATAN REPRODUKSI DAN SEKSUAL REMAJA DI BALI

May 12, 2008

by OKANEGARA

Lebih dari seperempat masalah pacaran yang masuk ke konseling telepon lembaga KISARA PKBI Bali hasil pencatatan hingga Juli tahun 2005, berkaitan dengan aktivitas seksual remaja, dan terdapat kecenderungan mereka baru berkonsultasi setelah seksual aktif. Awal keterlibatan mereka dalam hubungan seksual pranikah sebagian disebutkan karena coba-coba dan tanpa direncanakan, karena terbawa suasana dan adanya dorongan seksual muncul karena ada pengaruh dari beberapa media pornografi yang pernah diakses.Dalam sebuah konseling tatap muka juga sempat terekam ada seorang remaja SMP kelas 2 yang sudah terpengaruh akan kebiasaan bermasturbasi yang terlalu berlebihan, awalnya kebiasaan ini pun karena coba-coba akibat ajakan dan pengaruh teman-teman sebayanya.

Itu adalah baru sebagian dari permasalan remaja yang berkaitan dengan aktivitas seksual. Belum lagi kasus-kasus kekerasan seksual, kehamilan tidak diinginkan (KTD) pada remaja, aborsi remaja, pernikahan usia muda dan sejenisnya, yang nampaknya masih belum banyak diangkat secara mendalam, baru dibahas permukaannya saja, sehingga seolah-olah problem ini dianggap kasus yang semakin biasa terdengar dan tidak begitu penting untuk dikaji lebih jauh.

Menurut WHO batasan usia remaja adalah 12 sampai 24 tahun. Sementara menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional/ BKKBN (Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak Reproduksi) batasan usia remaja adalah 10 sampai 21 tahun. Dalam pendampingan oleh KISARA PKBI Bali, usia 10 sampai dengan 24 tahun adalah sasaran utama program komunikasi, informasi dan edukasi tentang kesehatan reproduksi, seksual, termasuk hak reproduksi, HIV/AIDS dan penyalahgunaan narkoba.

Arus informasi melalui media masa baik berupa majalah, surat kabar, tabloid maupun media elektronik seperti radio, televisi, dan komputer, mempercepat terjadinya perubahan. Meskipun arus informasi ini menunjang berbagai sektor pembangunan, namun arus informasi ini juga melemahkan sistem sosial ekonomi yang menunjang masyarakat Indonesia. Remaja merupakan salah satu kelompok penduduk yang mudah terpengaruh oleh arus informasi baik yang negatif maupun yang positif. Perbaikan status wanita, yang terjadi lebih cepat sebagai akibat dari transisi demografi dan program keluarga berencana telah mengakibatkan meningkatnya umur kawin pertama dan bertambah besarnya proporsi remaja yang belum kawin. Hal ini adalah akibat dari makin banyaknya remaja baik laki-laki maupun perempuan yang meneruskan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi dan makin banyaknya remaja yang berpartisipasi dalam pasar kerja. Panjangnya waktu dalam status lajang maupun kesempatan mempunyai penghasilan mempengaruhi remaja untuk berperilaku berisiko antara lain menjalin hubungan seksual pranikahl, minuman keras, narkoba yang dapat mengakibatkan kehamilan tidak diinginkan dan risiko reproduksi lainnya, juga tertular infeksi menular seksual termasuk HIV/AIDS.

BEBERAPA KAJIAN

Beberapa hal yang perlu disebutkan dalam kajian di sini antara lain adalah yang pertama, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) pada pertemuan “Gawe Bareng Remaja” April 2005 di Yogyakarta menyebutkan bahwa masalah remaja Indonesia pada intinya hampir sama, yaitu: minimnya pengetahuan tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi karena terbatasnya akses informasi dan advokasi remaja, tidak adanya akses pelayanan yang ramah remaja, belum adanya kurikulum Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) di sekolah, masih terbatasnya institusi di pemerintah yang menangani remaja secatra khusus dan belum ada undang-undang yang mengakomodir hak-hak remaja.

Departemen Pendidikan Nasional dalam pertemuan dan Lokakarya Nasional Kehamilan Tidak Diinginkan di akhir Nopember 2005 lalu menyebutkan bahwa pada intinya mereka menyetujui bahwa KRR itu penting dan sudah diupayakan diberikan secara umum melalui mata pelajaran Penjaskes, IPA dan Agama, tetapi secara khusus masih dalam kuantitas yang sangat sedikit (2 jam) di Penjaskes SMA bila dilihat dari kurikulum nasional 1994. Dan disimpulkan pula bahwa sesungguhnya pendidikan KRR di sekolah masih belum berjalan. Hal ini dikarenakan ketidaksiapan tenaga pendidik, terbatasnya bahan ajar bagi guru, masih dianggap tabu dan banyaknya hambatan kultural. Sehingga perlu sekali terobosan yang dilakukan baik lewat jalur kurikuler, ekstrakurikuler maupun kegiatan khusus bekerjasama dengan lembaga lain. Lewat jalur kurikuler sudah ada pengembangan dengan diupayakan lewat kurikulum 2004 yang memasukkan materi “Sistem Reproduksi Manusia” pada mata pelajaran Biologi di kelas II SMA.

Dalam Simposium Nasional Pentingnya Pendidikan Seks buat Remaja, tahun 2002 yang lalu disebutkan juga bahwa tantangan dalam pelaksanaan program-program KRR di Indonesia, antara lain : tidak adanya aturan hukum yang mendukung.Undang-Undang Kependudukan No.10 tahun 1992 masih menyebutkan melarang pemberian informasi seksual dan pelayanan bagi orang yang belum menikah, meningkatnya angka kejadian seks pranikah, faktor-faktor demografi berupa : meningkatnya usia perkawinan, migrasi desa ke kota yang sangat cepat, perubahan sosial yang terjadi sebagai akibat dari : 1) break down in social and family support systems, 2) rising school enrolment at high school and university leads to separation of young people from family, 3) rising exposure to mass-media, girl/boy relationships, access to illicit materials, 4) increasing number of adolescent girls enter into sex industry for economic reasons

BKKBN Propinsi Bali, dalam koordinasinya di tahun 2004 menyampaikan bahwa permasalahan KRR adalah sangat penting karena: jumlah remaja yang sangat besar dan remaja adalah aset masa depan, tetapi remaja justru berada dalam periode transisi yang penuh gejolak. Beberapa tantangan yang dihadapi di Bali adalah minimnya sarana dan prasarana, kurangnya melibatkan remaja dalam perencanaan program BKKBN dan sikap stakeholders yang masih belum kondisif, misalnya dalam diskusi tentang pendidikan KRR di sekolah maupun wacana penggunaan kondom dalam kampanye seks yang aman.

Dalam hal penanganan HIV/AIDS yang juga tidak bisa lepas dari isu KRR, Komisi Penanggulangan AIDS daerah Bali dalam jumpa pers dalam rangka Hari AIDS Sedunia 2005 kemarin menyebutkan bahwa respon yang diberikan terhadap perkembangan kasus HIV/AIDS itu begitu lamban. Karena sebagian masyarakat kita termasuk beberapa pejabat pimpinan daerah masih menganggap HIV/AIDS belum merupakan ancaman serius. Yang kedua adalah karena masih adanya pandangan yang keliru yaitu berupa stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Semua ini bersumber dari kekurang pahaman mengenai sifat penyebaran penyakit tersebut. Upaya pencegahan dan penanggulangan yang masih diwarnai stigma dan diskriminasi akan menjadi melenceng. Bahkan cenderung melanggar HAM, merusak citra serta merugikan dan akhirnya menghambat upaya-upaya berikutnya.

Masyarakat Bali yang didalam darahnya mengandung virus HIV kini diperkirakan sekitar 3000 orang (estimasi 2003) atau 4000 orang (estimasi 207). Mereka terutama tertular dari hubungan seks beresiko dan penggunaan jarum suntik narkoba bergantian. Mereka tersebar di seluruh Bali, meskipun masih terkonsentrasi di kota Denpasar, kabupaten Badung dan kabupaten Buleleng. Jika kita tidak berbuat apa-apa maka menurut ahli ilmu kesehatan masyarakat Prof. Dr.dr Dewa Wirawan, MPH peristiwa yang akan dialami Bali kira-kira akan sesuai dengan skenario berikut: sekitar 50% dari mereka yang saat ini HIV positif dalam kurun waktu 5 tahun akan memasuki fase AIDS. Kemungkinan sekali separuh dari pengidap AIDS itu yaitu sekitar 750 orang akan membutuhkan perawatan. Tempat tidur yang dimiliki oleh RSUP Sanglah yang merupakan pusat pelayan kesehatan rujukan saja ada sekitar 800an. Bisa jadi sebagian besarnya akan dihuni oleh pengidap AIDS. Belum lagi disusul gelombang penderita baru yang semakin banyak. Kebutuhan akan dokter, perawat, obat, alat dan sebagainya akan juga meningkat. Bahwa di Bali akan berlangsung “ngaben” massal bisa mendekati kenyataan.

SEKILAS DATA

Survei Kesehatan Remaja Indonesia (SKRRI) 2002-2003 yang dilakukan oleh BPS menyebutkan laki-laki berusia 20-24 tahun belum menikah yang memiliki teman pernah melakukan hubungan seksual sebanyak 57,5 persen dan yang berusia 15-19 tahun sebanyak 43,8 persen. Sedangkan perempuan berusia 20-24 tahun belum menikah yang memiliki teman pernah melakukan hubungan seksual sebanyak 63 persen. Perempuan berusia 15-19 tahun belum menikah yang memiliki teman pernah melakukan hubungan seksual sebanyak 42,3 persen. Hasil SKRRI 2002-03 menunjukkan bahwa hubungan seksual sebelum menikah umumnya masih ditolak. Namun dalam kondisi tertentu penduduk usia 15-24 tahun belum menikah memberikan toleransi yang cukup besar bagi seseorang melakukan seks pra nikah, terutama jika telah merencanakan untuk menikah. Sekitar 29,6 persen diantara laki-laki berusia 15-24 tahun belum menikah yang setuju dengan seks pra nikah menyatakan bahwa perilaku tersebut boleh dilakukan jika pasangan tersebut akan menikah dan 26,5 persen menyatakan bahwa perilaku tersebut boleh dilakukan jika pasangan tersebut saling mencintai. Read the rest of this entry »


Manajemen Diri Dalam Penanggulangan HIV AIDS

May 3, 2008

by HARUMI

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, yaitu pada sel darah putih manusia, dimana terdapat reseptor CD4+ yang merupakan sinyal yang sangat sensitif bagi HIV. Media penularan virus ini adalah cairan tubuh manusia terutama terdapat pada darah, cairan sperma, cairan vagina dan tidak menular melalui keringat, air mata, air ludah, kencing dan air liur. Yang juga sangat penting untuk diketahui adalah perilaku beresiko yang dapat menularkan HIV/AIDS yaitu, melalui hubungan seksual baik homoseksual maupun heteroseksual, melalui transfusi darah, transplantasi organ yang tercemar HIV, melalui alat/ jarum suntik yang tercemar HIV dan pada saat kehamilan baik dari plasenta, pada proses kelahiran ataupun air susu ibu yang sudah tercemar oleh HIV. Tiap orang wajib setidaknya mengetahui mengenai virus ini, agar dapat melindungi diri sendiri sehingga tidak terinfeksi oleh virus ini.

Dari tinjauan BKKBN, situasi AIDS Propinsi Bali menurut faktor resiko sampai dengan Juni 2007, terbanyak berasal dari kalangan heteroseksual yaitu sejumlah 45%, disusul kemudian dari kalangan IDU (Injecting Drug User) sebanyak 40%. Read the rest of this entry »