Gerimis…

by WANGI

Laki-laki itu berjalan melewati jalanan kerikil dekat pemakaman, tubuhnya terlihat kurus dengan baju kedodoran yang menempel di tubuhnya. Dia memetik beberapa bunga liar yang tumbuh di sekeliling pagar pemakaman, dan merangkainya hingga menjadi sebuah karangan bunga. Sesekali ia mengusap keringat di keningnya. Ada kesedihan di mata laki-laki tua itu, terlihat dari caranya menatap satu per satu batu nisan yang berjejer rapi di pemakaman itu.

Laki-laki itu menyelinap memasuki area pemakaman, dengan menyeret kedua kakinya yang ditopang dengan tongkat kayu. Ada bungkusan kecil di tangannya, bungkusan merah dengan renda bunga di pinggiranya, dan sebuah surat yang ia jepit dengan kedua bibirnya. Dia menatap keatas, Gerimis menimpa wajah keriputnya. Dia berjalan menuju pojok pemakaman, tatapannya kosong menerawang ke depan.

Laki-laki tua itu menatap batu nisan di hadapannya, ada banyak rumput liar basah yang memenuhi pemakaman, masih terlihat jelas nama yang terukir di batu nisan itu. “Domina” air mata mengalir membasahi mata cekung laki-laki tua itu. Sampai dia tengkurap memeluk gundukan tanah kuburan di hadapannya. Sesuatu merasuki memorinya, dia teringat seseorang yang menjadikannya laki-laki pincang yang hanya tinggal menunggu kematian.

Domina… wanita itu yang menghancurkan kehidupannya. Membuatnya hancur berkeping-keping, hingga kepingan demi kepingan tak bisa lagi terkumpul secara utuh, dan Domina satu-satunya orang yang dia cintai hingga detik ini, tiga puluh tahun setelah kematian Domina.

Tiga puluh tahun sejak hatinya mulai berserakan. Kecelakaan itu yang telah mengambil kaki kanannya, dan juga cintanya. Laki-laki itu tak pernah berharap itu terjadi padanya, apalagi pada malam pernikahannya, dan semenjak saat itu, dia selalu dibayang-bayangi rasa bersalah terhadap keluarga Domina.
***
Laki-laki itu menyeret kakinya menjauhi pemakaman. Keringat dingin mengalir membasahi pelipisnya. Hingga beberapa kali dia bersender di pagar-pagar yang mengelilingi pemakaman itu.

Rasa sakit menjalar di sepanjang betis kanannya, sedangkan betis kirinya menopang tubuh dengan bantuan tongkat kayu. Laki-laki itu terjatuh dengan menindih lengan kirinya. Air matanya mengalir, rasa sakit tak lagi di betis kanannya, kini rasa sakit itu terasa di dadanya.

Dia tau apa yang akan terjadi, waktu telah menjepitnya, dia tak bisa lebih lama lagi menceritakan kehidupannya. Darah segar mengalir dari dari mulutnya. Laki-laki itu tak lagi bernafas.
***
“Hanya ada satu yang paling hitam saat ini, ketika kehidupan yang kita jalani lelah, dan kematian yang mengakhiri semua cerita. Aku tak pernah menyesali kehidupanku, aku juga tak penah berusaha untuk berhenti mencintaimu Domina, aku hanya berusaha untuk menerima kenyataan, bahwa cinta tak harus ada untuk kita miliki. Kita memang memiliki cinta itu, tapi ada jarak yang memisahkan kita.

Domina… ketika umurku semakin berambah, dan tubuhku semakin menua digerogoti usia, aku ingin kau tetap mencintaiku, sama seperti aku, yang mencintaimu hingga kematian itu datang”

Laki-laki itu terbaring tak jauh dari pemakaman Domina, Kesedihannya ikut terkubur bersama luka dan kenangan-kenangan bersama Domina. Ada novel di balik bungkusan merah berenda yang dibawa laki-laki itu. Ada namanya di ujung pojok sampul, dan judulnya di tengah bawah.

Gerimis… laki-laki itu seorang Penulis, dan kenangannya bersama Domina akan terkubur bersama gerimis yang ia tulis.

3 Responses to Gerimis…

  1. mala says:

    wahhh…keren sekali….apakah penulisnya, wangi Suryati ini anak KiSARA juga?? wah KISARA memang penuh dengan remaja berbakat.salut ya….maju terus kisara.

  2. remajabali says:

    wangi suryati itu relawan kisara….

    thanks ya mala…buat supportnya…

  3. rara says:

    wuiihhhh
    wangi…!!!!!

    semangat terus pantang mundur bwt cerpen ya????
    bgs………..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: