Cewek Pekerja Seks

by WANGI

Chacha tertunduk, memandang amplop coklat yang ia genggam, air matanya masih menetes, dan membasahi sebagian amplop itu Beberapa kali Chacha memukul kepalanya ke dinding, rasa sakit itu menjalar sampai ujung kakinya, hampir seluruh tubuhnya sakit, dan hatinya juga ikut sakit. Chacha membaringkan tubuhnya di kasur dan mulai memejamkan matanya. Sesekali dia mengelap pipinya—menghapus air matanya dengan telapak tangannya.

Di kamar itu hanya ada tempat tidur kecil dan lemari pakaian yang sudah sangat tua. Dan ada banyak sekali kartu nama yang berserakan dilantai dekat kasur. Hampir semuanya milik laki-laki, mulai dari pengusaha mebel, pengusaha mobil, pejabat negara, manager, marketing dan masih banyak lagi yang tertumpuk rapi dengan posisi terbalik. Hampir sebagian yang bisa terlihat adalah katu nama milik pengusaha kaya. Kamar itu kecil berukuran 4×4 meter yang ia sewa dengan uang hasil pekerjaan kotornya.

Dia tak seberuntung gadis-gadis lainnya yang bisa menikmati masa remajanya dengan tawa, atau dengan hal-hal yang menyenangkan. Yang dia pikirkan hanya, bagaimana dia bisa terus menyambung hidupnya—memperoleh sesuap nasi dan tempat tinggal. Dia tau apa yang dia lakukan barusan, menambah dosa baru pada catatan dosanya, tapi persetan dengan dosa-dosa yang dia buat, ini kehidupan yang dia tempuh, jalan yang Tuhan takdirkan dalam kehidupannya.

Chacha membuka matanya, memandang langit-langit kamarnya—tampak kotor dan berdebu—sudah hampir sebulan lebih dia tak memperhatikan kamar kostnya, bahkan baru malam ini dia bisa merasakan kembali kasurnya yang empuk. Pandangannya beralih ke amplop coklat yang sejak tadi ia genggam, ada lima lembar uang seratus ribuan didalamnya. Hari ini Chacha hanya mendapat lima ratus ribu, padahal biasanya dalam sehari dia bisa mendapatkan satu sampai tiga juta—Ya satu hingga tiga juta perhari dengan menjual tubuhnya. Chacha gadis yang sangat manis, dengan dua lesung pipi yang menempel di pipinya, rambutnya yang hitam dan bergelombang yang membuatnya semakin terlihat manis. Chacha tinggal sendiri di Ibukota, ayahnya meninggal saat Chacha berumur 2 tahun karena menderita kanker otak, ibu Cha dirawat di rumah sakit semenjak setahun yang lalu, karena gangguan jiwa.

Chacha punya seorang ayah tiri—awalnya Cha bahkan tak mau menganggap laki-laki itu sebagai ayah, tapi karena paksaan ibunya, Chacha menyebut laki-laki itu dengan sebuatan ayah—Ayah tiri Chacha seorang penjaga toko roti, lima tahun yang lalu laki-laki itu menikahi ibu, dan saat itu umur Chacha masih dua belas tahun.

Awal pernikahan laki-laki Itu selalu bersikap manis pada Chacha—memberinya banyak hadiah, dan kue-kue coklat saat pulang kerja—Ibu juga sangat mencintai laki-laki itu, sama seperti ketika ibu mencintai ayah kandung Chacha. Tapi setelah setahun berlalu sikap laki-laki itu berubah, menjadi semakin sering marah, menjudi dan beberapa kali sering memukuli ibu.

Empat tahun setelah pernikahan itu, Ayah tiri Cha semakin menjadi-jadi, rumah yang mereka tinggali dijualnya untuk membayar hutang-hutang judinya. Keluarga Chacha jatuh, Ayah tiri Chacha kabur dari rumah, sedangkan ibu Chacha harus ditempatkan di rumah sakit jiwa. Banyak hutang yang laki-laki itu tinggalkan untuk Chacha. Dan saat ini Chacha harus membayar semua hutang-hutang yang laki-laki itu sisakan.

Chacha tersadar dari lamunannya, saat mendengar ponselnya berbunyi, satu panggilan masuk.

“Ya ini Chacha…”

“Cha… Om Ren kangen, malam ini temenin om ya, kita ketemu di tempat biasa, om tunggu” Telpon terputus, Chacha sudah lama mengenal om Ren, kemauannya bahkan tak boleh ditolak. Jam pada ponsel Chacha menunjukkan pukul 21.30. Chacha bangkit dari tempat tidurnya, mengelap sisa-sisa air matanya dan membasuh wajahnya dengan air hangat. Dia tak boleh terlihat mengecewakan malam ini. Chacha mengambil tanktop hijau bertali satu dan jins pendeknya. Memoles wajahnya dengan make-up dan menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya.

Tak kurang dari lima belas menit Chacha sudah siap dengan dandanan serba mininya. Bisa terlihat lekukan-lekukan tubuh Chacha sempurna di balik balutan kainnya. Chacha melangkah keluar dari kamar kostnya, berjalan menyusuri gang kecil yang gelap dan sepi. Di ujung gang Chacha memanggil sebuah taksi.

***

Chacha memasuki sebuah penginapan kecil, dia sudah beberapa kali memasuki penginapan itu sehingga dia tau ke mana dia akan pergi. 034—Chacha menarik napasnya sebelum memasuki kamar 034—Dia sudah diberitahu sebelumnya oleh om Ren kamar itu. Chacha mengetuk lembut pintu kamar yang letaknya di lantai 2. Suara langkah kaki terdengar di balik pintu mendekati pintu. Seorang laki-laki—yang lebih pantas menjadi ayah Chacha—tersenyum saat tau yang mengetuk pintu kamarnya adalah Chacha. Om Ren menarik tangan Chacha dan mengunci pintu kamar penginapan.

“Cha… Akhirnya kamu datang juga” Om Ren tersenyum lembut sambil membelai pipi Chacha.

“Om Chacha minta satu juta ya…”

“Jangankan satu juta Cha…, Chacha boleh ambil semua uang yang ada pada om malam ini.” Chacha tersenyum tipis mendengar om Ren. Om Ren memulai dengan mencium bibir Chacha hingga Chacha terjatuh di tempat tidur. Tubuh Chacha yang kecil ditutupi dengan tubuh om Ren. Sesaat kemudian tak sehelai kain pun menutupi tubuh Chacha. Om Ren sangat menikmati tubuh Chacha, tapi Chacha hanya pasrah tubuhnya dinikmati.

***

Jam pada ponsel Chacha menunjukkan pukul 02.56 pagi. Dia memaksakan tubuhnya melangkah menjauhi penginapan itu, jauh dari keramaian kota yang membuatnya jenuh. Jalanan sudah sepi, hanya terlihat satu dua kendaraan, dengan susah payah Chacha mendapatkan sebuah taksi.

Chacha sampai di sebuah pantai, sepi dan gelap. Cha memejamkan matanya, menghirup dalam-dalam udara pantai, sampai dingin merayapi ubun-ubunnya. Tadi Chacha tak sempat menghitung uang yang ia dapatkan dari om Ren, Ada satu juta enam ratus lima puluh ribu, chacha memasukkan kembali uang yang ia dapatkan ke dalam tasnya. Chacha teringat surat terakhir yang dititipkan ayah kandung Chacha untuk ulang tahunnya yang ke-10 tahun.

Ayah bercerita banyak, tentang kisah cintanya pada ibu, dan kenangan-kenangan menunggu kelahiran Chacha, sampai ketika ayah Chacha tahu tentang penyakit yang dideritanya. Chacha juga masih ingat ketika umurnya lima tahun, saat pertama kalinya dia bertanya pada ibu—“Mana ayah kandung Chacha bu?”—Ibu hanya tersenyum tipis, Chacha bisa melihat mata ibu mulai berkaca-kaca, dan semenjak itu Chacha tak pernah bertanya lagi. Sampai umurnya sepuluh tahun, Chacha baru tau, apa yang terjadi sebenarnya, lewat surat terakhir ayah. Beberapa kalimat yang Chacha masih ingat,

Tak semua karang berdiri kokoh diterpa ombak. Apa kau tau kadang dia menangis, tubuhnya sakit karena amukan ombak. Kadang dia menjerit dan merintih karena kedinginan dan kencangnya hembusan sang bayu… Begitulah dalam kehidupan, tak akan ada tawa bila tak ada tangis. Dan bila kau menangis, berceritalah pada bintang-bintang, dengan putih cahayanya, Ayah akan selalu di sisi Chacha, menemani Chacha.”

Air mata mengalir ke pipi Chacha. Setiap kali Chacha mengingat kembali ayahnya dia tak bisa menahan tangisnya.

Bruuukkk… sebuah bola menghantam kepala Chacha, Kepala Chacha terasa pening oleh hantaman bola itu. Chacha terjatuh di pasir pantai. Seorang laki-laki menghampiri tubuh Chacha.

“Woi… bangun woi… sori aku nggak sengaja” Laki-laki itu menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali. Dia menampar-nampar pipi Chacha berharap Chacha sadar, tapi Chacha tidak bergerak sedikitpun. “Ya udah kalo kamu nggak mau bangun, aku temenin kamu tidur.” Laki-laki itu berbaring di sebelah Chacha, melipat tangannya di atas kepala.

“Kamu manis juga, apalagi saat mata kamu merem kayak sekarang. Sory ya aku nggak sengaja nendang bola ke kepala kamu, tapi kenapa kamu nangis? Kamu pasti lagi sedih ya? Aku juga lagi sedih nie…!” Suasana hening sejenak, laki-laki itu memandang wajah Chacha, berharap Chacha tak membuka matanya, tapi Chacha membuka matanya sambil memegang kepalanya yang sakit. “Kamu udah sadar…! Aku Aga” Laki-laki itu mengulurkan tangannya pada Chacha. “Kamu siapa?”

“Chacha…,!! Kamu udah gila ya. Pagi-pagi buta kayak gini main sepak bola di pantai.” Chacha berusaha menekan nadanya agar tak terdengar marah.

“Sory, aku nggak sengaja, aku nggak bisa tidur, makanya aku ke sini main bola, nah Kamu ngapaen ke sini?” Aga balik bertanya, dia bangun dari tempatnya menyandarkan kepalanya.

“Bukan urusan kamu…” Chacha pergi meninggalkan Aga sendiri.

“Cha… mungkin nggak kalo kita ketemu lagi” Chacha tak mengubris perkataan Aga. Jam pada ponsel Chacha menunjukkan pukul 04.30 sudah lama tampaknya ia berada di tempat ini. Chacha melangkah menjauhi tempatnya meninggalkan Aga tadi.

***

“Aku tau tak ada yang peduli dengan gadis seperti aku, tak akan ada yang peduli apa yang terjadi padaku. Karena aku sangat kotor, penuh dengan dosa. Tak akan ada yang melihat bangkaiku bila aku mati nanti. Aku sendiri di dunia ini… dengan dosa-dosa yang menari-nari di hadapanku.”

Hampir sebagian tembok kamar Chacha penuh ditulisi unek-unek tentang hatinya. Chacha tak tahu pada siapa dia harus berbagi. Dia bahkan tak punya seorang teman pun. Setelah keluarganya bangkrut, dia tak pernah lagi menampakkan batang hidungnya di hadapan teman-teman sekolahnya, atau bahkan dia tak pernah memikirkan untuk melanjutkan sekolahnya. Dia hidup seorang diri, tanpa siapa pun yang menemaninya.

Chacha mengambil sweter hijaunya yang tergantung dibalik pintu, berjalan menuju minimarket ujung jalan. Mini market itu cukup luas, berukuran 6X6 meter, menjual cukup lengkap makanan ringan. Chacha mengambil beberapa roti di rak-rak yang terjejer rapi membentuk barisan. Dia bisa merasakan hampir seluruh tubuhnya menggigil, rasa sakit di bagian kemaluannya semakin menjadi-jadi. Beberapa kali Chacha memukul kepalanya, kepalanya semakin lama semakin sakit hingga ia terjatuh. Chacha masih sempat melihat banyak orang-orang yang menghampiri tubuhnya.

***

Chacha mencoba membuka matanya perlahan, dia terbaring di ranjang kecil,dan bisa dia rasakan aroma rumah sakit yang menusuk kehidungnya.

”Akhirnya kamu sadar juga….!” seorang laki-laki duduk di dekat tempat tidur itu, Chacha bisa mengingat siapa laki-laki itu.

”Aga….!!!?”

”Iya, ternyata Kamu masih ingat sama aku. Nggak nyangka ya, kita ketemu lagi.” Chacha hanya tersenyum sambil memegang kepalanya yang masih sakit. ”Kamu istirahat aja dulu, biar agak mendingan. Aku mau cari makanan dulu ya, kamu masih perlu banyak makan, tubuh kamu masih lemah banget. O ya… aku juga mau tanyain keadaan kamu, sama dokter” Aga membalikkan tubuhnya menuju pintu bangsal. Chacha masih sempat melihat senyum Aga sebelum dia keluar bangsal.

”Ga thanks ya….” Chacha mengucapkannya dalam hati, sambil memejamkan matanya.

***

Aga meletakkan bungkusan makanannya di sebelah tempat tidur Chacha, Chacha masih terlelap, Aga duduk di dekat jendela bangsal rumah sakit, kepalanya di senderkan di senderan kursi merah. Diluar langit mendung, gerimis membasahi daun-daun taman rumah sakit. Beberapa saat berlalu, Chacha terbangun dari tidur lelapnya.

”Aga Kamu udah balik?” Aga membalik tubuhnya menatap Chacha dengan lembut, perlahan Aga mendekati tempat tidur Chacha, mengelus rambutnya. ”Kamu udah bangun Cha?” Chacha hanya mengangguk sambil tersenyum. ”Kamu makan dulu ya Cha, aku udah beliin Kamu makanan tuh,”

”Aku belum pengen makan Ga” Chacha merebahkan tubuhnya, Aga membantu Chacha untuk merebahkan tubuhnya. ”Ya… udah, tapi tar kamu makan ya.” Chacha bisa merasakan kembali senyum tenang Aga. Chacha sempat melihat keluar jendela, gerimis membasahi bumi pertiwi, mata Chacha mulai berkaca-kaca.

”Aku inget sesuatu klo ngeliat gerimis.” Chacha terdiam, Chacha ingin sekali bercerita pada orang lain tentang kesedihannya, tapi Chacha takut untuk bercerita. Aga memandang Chacha dengan lembut seolah berkata pada Chacha untuk menceritakan semuanya.

”Kita nggak beda, aku jaga punya kenangan saat gerimis, aku benci liat gerimis” Aga menghembuskan nafasnya ”Tiap kali aku liat gerimis, yang ada cuma kesedihan, aku lebih suka suasana pagi, disaat itu aku bisa ngelupain semua hal yang udah terjadi kemarin.” Chacha membaca raut sedih di wajah Aga. Ternyata bukan dia aja yang punya kenangan buruk dengan gerimis.

 

”Apa dok??” Aga meremas tangannya dengan kuat, dia bisa merasakan sakit di hatinya. Ada kekecewaan di matanya. Selama ini dia hanya mengenal Chacha yang menangis di pinggir pantai, dan Chacha yang tergeletak pingsan di lantai minimarket. Gerimis terlihat membasahi taman rumah sakit, Aga tertunduk di salah satu kursi lorong bangsal, sambil menatap gerimis di luar jendela. Aga tak tau apa yang akan dia jelaskan pada Chacha, dia mulai simpati dengan gadis itu.

 

 

 

”Aga, Kamu udah balik? Apa kata dokter? Aku kenapa??” Chacha.

”Kamu nggak apa-apa Cha! Kamu bakal baik-baik aja sama aku” Aga memeluk tubuh mungil Chacha. Jantung Chacha berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Chacha bisa merasakan aroma tubuh Aga menusuk hidung Chacha. Ada keganjilan di benak Chacha. Aga menatap Chacha, dia tak akan tahu sampai kapan ia akan menyembunyikan penyakit Chacha, Aga hanya tau hari ini dia tak ingin memberitahu penyakitnya pada Chacha dulu.

***

”Cha… kata dokter, besok kamu udah boleh pulang, aku mau ngajak kamu ke suatu tempat, kamu mau ya….!!” Tatapan hangat Aga membuat Chacha hanya mengangguk, mengiyakan sambil tersenyum. Ponsel Chacha berdering di atas meja, ternyata dari Om Ren. Chacha menyeret kursi rodanya keluar dari kamar rumah sakit. Dia tak ingin Aga mendengar pembicaraannya.

”Ya om… ” Chacha mendengarkan sahutan di ujung sana, Chacha sudah tau persis apa yang dikataka om Ren. setelah Chacha mengiyakan suara di ujung sana Chacha kembali menutup ponselnya. Sebenarnya Chacha ingin menolak ajakan om Ren, dengan alasan tubuhnya masih sangat lemah. Chacha bisa merasakan tubuhnya semakin kurus, berat badannya menurun secara drastis. Chacha memasukkan ponselnya dalam tas tangannya di atas meja.

”Cha….” Aga menggenggam tangan Chacha. ” Aku pengen kamu tau …, aku bakal terus ada di samping kamu.!” Chacha semakin tak mengerti dengan sikap Aga.

”Kamu kenapa Ga??”

”Nggak! Aku cuma pengen di samping kamu terus”

”Ada sesuatu yang kamu sembunyiin dari aku. Aku nggak salah kan? Kamu nyembunyiin sesuatu dari aku? Apa Ga? Apa yang kamu sembunyiin?”

”Nggak ada yang aku sembunyikan! Aku cuma takut kehilangan kamu.”

”Kehilangan aku? Kenapa kamu takut kehilangan aku? Aku bukan siapa-siapa kamu kan? Bahkan temen kamu aja bukan.” Aga terdiam.

”Karena aku sayang sama kamu Cha, aku nggak bisa ngebohongin perasaan aku, aku sayang kamu Cha….!” Chacha hanya mematung mendengar apa yang dikatakan Aga barusan, untuk pertama kalinya ada seseorang yang mau mencintainya. ”Cha….! kenapa kamu diem aja? Aku serius sayang sama kamu”

”Nggak…. Kamu nggak boleh sayang sama aku, Kamu bunuh perasaan Kamu. Kamu belum tau semua tentang aku, sebelum Kamu nyesel sayang sama aku.”

”Aku nggak akan ngebunuh perasaan aku, dan aku nggak akan nyesel sayang sama Kamu.”

”Tapi kamu nggak boleh sayang sama aku!”

”KENAPA?? Apa karena penyakit yang ada di tubuh Kamu? ”

”Penyakit? Aku sakit Ga? Aku sakit apa?” Aga memeluk tubuh Chacha.

”Dokter bilang Kamu kena AIDS Cha….!!” Air mata mengalir hangat ke pipi Chacha, dia ingin sekali berteriak sekeras-kerasnnya hingga semua orang tau, dia tak ingin hidup lagi. ”AIDS?? Aku bakal mati Ga?” Chacha manahan tangisnya, dia menangis.

”Cha Kamu nggak bole ngomong gitu! Aku bakal selalu di samping kamu, ngejagain kamu, aku sayang sama kamu.”

”Kamu kasian kan sama aku?”

***

Chacha memandang keluar jendela, gerimis sudah berubah menjadi hujan. Hari ini, hari terakhirnya di rumah sakit, seminggu setelah kejadian di supermarket itu, Chacha hanya bisa mengingat sebelumnya dia bisa merasakan beberapa saat indahnya ketika dia berdiri di tepi pantai. Tapi hari ini, setelah dia tau sebuah kenyataan, dia hanya ingin menutup rapat-rapat telinganya, hingga tak ada kenyataan yang bisa dia dengar. Chacha ingin kembali ke masa itu, ketika pertama kali Chacha menjual tubuhnya, Chacha akan berlari dan tidak akan mengijinkan laki-laki itu menikmati tubuh Chacha. Tapi kenyataan berkata berbeda, membawa Chacha menjadi seorang pekerja seks.

Aga membangunkan Chacha dari lamunannya, ”Hai Cha ….! Kamu udah siap belum, aku anterin pulang ya! Semua administrasi udah aku urus.”

”Thanks ya Ga, Kamu baik banget.!” Chacha menundukkan kepalanya, agar wajahnya tak terlihat oleh Aga. Jantungnya berdebar dua kali lebih cepat bila melihat wajah Aga. Aga melangkah mendekati Chacha, semakin dekat, hingga tangan Aga bisa menyentuh pipi Chacha, beberapa saat bibir Aga menyatu dengan bibir Chacha, dan tanpa Chacha sadari, air mata membasahi pipi Chacha.

***

Ketika kita inginkan sesuatu, tapi kadangkala yang kita peroleh bukan seperti yang kita inginkan, melainkan hal yang bertolak belakang. Sebelumnya Chacha hanya ingin melewati sisa hidupnya dengan pekerjaan kotornya, melewati semua kehidupannya seorang diri, tapi tiba-tiba keinginannya berontak, dia tak ingin lagi melihat gerimis sebagai kepedihannya, melainkan sebagai awal dari hujan yang melebur semua kenangannya. Dia kembali merasakan cinta yang telah lama terkubur dalam bersama kenangannya.

Taksi biru melaju dengan hati-hati, melewati jalanan yang basah karena hujan. Chacha terdiam memandang hujan di luar jendela, perasaannya sedikit lebih tenang saat ini, mungkin karna Aga ada di sampingnya.

”Kamu pernah bilang, kalo kamu benci sama gerimis.” Suasana hening sesaat, Chacha menghembuskan nafas panjang. ”Aku juga benci sama gerimis, dia pergi ninggalin aku saat gerimis, karna dia tau aku udah kotor. Mungkin saat Kamu tahu yang sebenarnya, Kamu juga bakal ninggalin aku, sama seperti Dino.” Aga diam, memberi kesempatan Chacha untuk melanjutkan. ”Kamu nggak tau, siapa aku…, please… setelah hari ini, Kamu pergi dari kehidupan aku. Anggap aja kita tak pernah mengenal sebelumnya”

”Cha…! aku nggak bakal ninggalin Kamu, dengan keadaan Kamu yang seperti ini, nggak Cha…! aku sayang sama kamu Cha, walopun kamu udah kotor sekalipun!”

”Aga, Kamu belum tau aku, buat nyambung hidup aku aja, aku harus ngejual tubuh aku, aku bukan cewek sempurna yang pantas buat Kamu” Aga memejamkan matanya, sesekali melihat hujan di luar mobil, dia kaget mendengar kenyataan. ”Please, kamu pergi dari kehidupan aku” ………. ”Aku tau ini yang bakal terjadi sama aku, akhirnya kematian itu di depan mata. Waktu aku nggak lama lagi.” Chacha terbatuk, Ada cairan kemerahan di hidung Chacha.

”Aku bakal selalu sama Kamu Cha” Aga mengelap darah di hidung Chacha.

***

Selama beberapa lama Chacha tak pernah bertemu dengan Aga, Chacha tau, pada akhirnya Aga akan meninggalkannya sama seperti saat Dino meninggalkannya dulu. Gerimis akan tetap menjadi gerimis, dimana kenangan lalu tak akan pernah terkubur tanpa sisa, dan hujan tak akan pernah bisa melebur kenangan, tanpa proses Kenangan itu tak akan pernah terkubur sampai suatu saat, KEMATIAN…

***

Chacha meneguk air hangat, merasakan kehangatan masuk ke tenggorokannya. Tangan kanannya memegang sebuah bintang laut, dia teringat setahun tahun yang lalu, ketika semua hal yang mengubah hidupnya mulai terjadi. Chacha berlari dalam gerimis malam itu, dengan balutan kain tipis dan tanpa alas kaki. Chacha tak tau kemana dia akan pergi, semasih dia bisa, dia terus berlari tanpa menoleh ke belakang. Hingga dia sampai di sebuah taman yang tak jauh dari pusat kota. Chacha mengeluarkan ponsel dari saku celananya, satu panggilan tak terjawab, dari Dino. Laki-laki yang sangat dicintainya. Tanpa pikir panjang Chacha langsung menghubungi Dino

”Din…!” suara Chacha sedikit bergetar.

”Kamu di mana sayang?”

”Taman kota.”

”Oke, tunggu di sana ya, aku punya sesuatu buat kamu.” Dino memutuskan telephonenya.

Tak lama setelah itu Dino sampai di taman kota, hanya ada seorang gadis di taman itu, Chacha. Chacha menghapus air matanya, agar Dino tak tau Chacha habis menangis. Dino memeluk gadis itu dari belakang, sambil memberikan seikat mawar putih padanya.

”Cha, kamu suka kan?” Chacha meraih mawar putih di tangan Dino.

”Din…..!”

”Sssstttt….., sayang, aku pengen banget nikmatin gerimis berdua sama kamu” Dino mengecup pipi Chacha. ”Satu lagi Cha…!” Dino memberikan kotak kecil dengan hiasan pita hijau. Didalamnya ada bintang laut yang terbuat dari tembaga dan dilapisi cat keemasan. ”Kamu suka kan?” Chacha hanya mengangguk. Dino menatap wajah Chacha, Ada sedikit darah menempel di bibir Chacha.

”Cha… bibir kamu berdarah? Kamu kenapa??” Dino menatap ke bagian lengan Chacha, ada memar biru bekas pukulan. Dino baru menyadari, gadisnya terluka. Chacha hanya menundukkan wajahnya, sambil mengelap sisa darah di mulutnya. Chacha memeluk Dino sambil menangis.

”Cha… kamu kenapa?” Dino memegang bahu Chacha.

”Aku… aku udah kotor Din”

”Shiittt….” Dino memukul bangku taman. Ada kekecewaan di wajah Dino. Chacha masih tetap menagis.

Berhari-hari setelah malam itu, Dino tak pernah muncul di hadapan Chacha, hingga detik ini. Ketika Chacha tertunduk memegang bintang laut tembaga pemberian Dino, dengan tangis. Chacha tersadar dari lamunannya, matanya basah karna air mata. Hal yang sama terjadi padanya lagi. Akhirnya Aga juga akan pergi ninggallin dia sendiri. Chacha teringat satu hal, Om Ren, satu janji yang belum Chacha tepati. Chacha sudah bercerita pada om Ren tentang keadaannya, tapi tidak tentang penyakitnya, untungnya om Ren memberi waktu Chacha hingga benar-benar sembuh. Dan hari ini Chacha harus menemuinya di rumah kediamannya

Chacha berlari menuju kamar mandi, lima menit lagi pukul 9 malam. Chacha tak ingin om Ren menunggu Chacha terlalu lama.

Chacha menggenakan gaun putih dengan sedikit renda di bagian leher. Rambutnya yang panjang disisirnya dengan rapi.

***

Chacha tiba di sebuah rumah yang cukup besar, dengan halaman amat sangat luas. Chacha dipersilahkan masuk oleh satpam yang terlihat sudah sangat tua. Namanya pak Dibyo, Chacha diantar sampai ke ruang tamu.

”Chacha…. Akhirnya kamu datang juga!” Om Ren menuruni tangga. ”Ibu lagi nggak ada di rumah kamu tenang aja”

”Pantes aja om berani ngajak Chacha ke rumah Om. Chacha minta yang lebih ya om.” Chacha mulai mencopoti pakaiannya satu persatu.

”Cha… di kamar tamu aja ya…! Om pengen berdua aja sama Chacha, tanpa ada yang liat.” Om Ren menggendong Chacha yang sudah telanjang bulat. Sambil menyeret pakaian putih milik Chacha. Walaupun hanya kamar tamu, kamar itu cukup luas dengan dekorasi minimalis. Chacha meletakkan pakaiannya di kursi merah dekat meja. Sedangkan Om Ren mulai mencopoti pakaiannya. Menjilati tubuh Chacha hingga basah. Chacha mulai menikmati sentuhan sentuhan om Ren dengan lidahnya. Om Rem mencium bibir Chacha dengan penuh nafsu, cairan kemerahan keluar dari bibir Chacha.

”Maaf om terlalu keras” Om Ren menjilati darah di bibir Chacha dengan mulutnya. Sesaat Chacha bisa merasakan sesuatu yang hangat dan basah masuk ke dalam vaginanya.

***

Chacha berdiri di tepi pantai merasakan hembusan sang bayu yang perlahan-laham menenangkan jiwanya. Memandang ke hadapannya hamparan yang gelap dan sepi. Rasa sakit di kepala dan kemaluannya semakin menggilainya. Semakin lama, tubuhnya semakin menggigil, balutan kain putihnya tak bisa menahan udara malam. Dari kejauhan terlihat seorang laki-laki mendekati tempat Chacha berdiri. Semakin dekat hingga bisa terlihat dengan jelas.

”Aga?” Aga tersenyum pada Chacha, lalu memeluknya.

”Aku kangen banget sama Kamu Cha” Chacha melepaskan tubuhnya dari pelukan Aga.

”Bulshit!! Kamu sama aja kayak Dino, kamu ninggalin aku saat kamu tau aku kotor” Chacha berlari menjauh dari Aga.

”Cha Kamu dengerin aku dulu Cha” Aga berusaha menahan Chacha

”Apa lagi yang harus aku dengerin dari Kamu? Tinggalin aku!!”

”Cha… maafin aku, ternyata setelah aku ninggalin Kamu, aku nggak bisa…. aku nggak bisa tanpa Kamu. Kamu maafin aku ya….!” Chacha tertunduk, pipinya dibasahi air mata. Apa yang dirasakannya sama seperti yang dirasakan Aga. ”Cha…” Aga memeluk Chacha dan mengecup keningnya.

”Ga…, Kamu bakal ninggalin aku?”

”Aku nggak akan ninggalin Kamu Cha. Aku janji!!” Chacha terbatuk darah segar keluar dari mulutnya. Chacha mengelap mulutnya dengan telapak tangan,

”Ga aku bakal mati.”

”Kamu nggak boleh bilang itu, semua orang bakal mati nantinya. Aku bakal selalu ada di samping Kamu!”

***

Chacha membanting ponselnya setelah melihat satu panggilan tak terjawab, om Ren. Chacha tau apa yang diinginkan om Ren, hanya saja Chacha tak ingin pergi menemuinya. Chacha merapikan semua kartu nama yang berserakan di lantai dekat kasur, dan membuangnya ke tempat sampah. Chacha masih ingat beberapa hari yang lalu, untuk sekian lama ia membuka kotak yang berisi bintang laut tembaga pemberian Dino. Chacha membuangnya ke tempat sampah, dia ingin mengubur dalam-dalam kenangan masa lalunya. Dan menikmati sisa hidupnya hanya dengan Aga. Chacha memperhatikan wajahnya di cermin, menyentuh lekuk-lekuk wajahnya, terlihat Chacha yang sangat kurus, dengan rambut yang berantakan. Dia berusaha tersenyum, Dia ingin melihat senyumnya lagi. Chacha mengambil sepidol hitam di laci meja. Dia menulis beberapa kalimat di dinding kamarnya.

”Aku bakal mati….! nggak lama lagi.”

Satu pesan masuk, dari Aga.

”Cha, aku kerumah.!” Chacha mengetik balasan untuk Aga, tak berapa lama Aga tiba di rumah Chacha. Aga terlihat sangat rapi, dengan kemeja putih dan seikat mawar merah di tangan kanannya. Chacha mempersilahkan Aga masuk ke kamarnya.

”Buat Kamu!” Aga memberikan mawar merah di tangannya. ”Kamu mau kan jadi tunangan aku?” Aga mengeluarkan kotak merah kecil dari saku celananya. Chacha tersenyum, air matanya mengalir tak tertahankan. Aga memasangkan cincin emas putih di jari Chacha.

”Cha… Aku pengen selalu di samping kamu, aku sayang kamu Cha….!!”

”Aku juga sayang kamu Ga ” Chacha memeluk Aga, hari ini tak akan pernah dia lupakan, sampai waktunya habis.

”Cha…, aku masih hutang sesuatu sama kamu.”

”Apa?”

”Em…, aku pernah bilang kalo aku mau ngajak kamu ke suatu tempat, kalo kamu udah keluar dari rumah sakit. Masih inget kan?” Chacha mengangguk ”Hari ini kamu ikut aku ya….!!”

 

Chacha mengganti bajunya dengan gaun hijau daun, rambutnya yang panjang disisirnya dengan rapi dan ditambahnya dengan jepitan bintang berwarna hijau lumut.

”Ga kita mau ke mana sih?”

”Tar aja kamu liat.!!”

Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, jalanan basah karena gerimis. Di sepanjang perjalanan ada banyak anak-anak menari-nari menikmati gerimis. Aga menghentikan mobinya di pingir jalan, ada sawah hijau di hadapannya.

”Ga kita mau ke mana, kok berhenti di sini?? Hujan Ga!!!”

”Cha, ini gerimis, bukan hujan!” Aga menuntun Chacha berjalan di jalanan kecil dekat sawah. Mereka tiba di sebuah rumah pohon, rumah itu kecil, hanya beratap kayu-kayu kecil yang disusun dengan rapi. Di bawah, di sekeliling pohon ada bangku panjang yang terbuat dari pohon kelapa.

”Ga…, bagus banget Ga!”

”Ini taman cinta. Dulu banyak banget kenanganku di sini.” Chacha memandang Aga ”Namanya Raya, dia cinta sekaligus sahabat kecil aku. Setiap hari kita pasti pergi ke sini. Ada banyak cerita tentang kita. Dia paling suka liat bintang di sini, dia juga suka pantai, gerimis, dan juga rumah pohon ini. Beberapa tahun yang lalu dia pergi ninggalin aku, tuhan ngambil dia, lewat sebuah kecelakaan, saat gerimis, saat hal yang dia sukai. Karna itu aku benci sama gerimis, gerimis udah ngambil orang yang aku sayang. Aku mau ngelupain itu semua, aku nggak mau benci lagi sama gerimis.”

”Ga…, apapun yang terjadi dulu, kamu punya kehidupan lain sekarang……” Aga hanya mengangguk ”Aku juga akan mati Ga, ninggalin kamu.”

”Aku bakal selalu di samping kamu, sayang sama kamu.” Chacha tersenyum, dia ingin bercerita tentang semuanya pada Aga, tapi dia tak ingin merusak moment ini dengan tangis. Sebagian tubuh mereka basah karena gerimis, mereka menikmati gerimis berdua dengan bergembira.

***

”Cha, aku pulang dulu ya…!” Aga mencium kening Chacha, ada perasaan mengganjal di benak Chacha. Chacha terbatuk, darah segar mengalir dari mulutnya. Aga menghapus darah itu dengan tangannya. Chacha menahan tangisnya, tapi dia tak mampu, air mata mengalir dari matanya, dia menangis, dia tau kematiannya tak lama lagi. Hanya tinggal menunggu waktunya berakhir.

Chacha masuk ke dalam kamar kostnya, meletakkan ponselnya di atas meja kayu dekat cermin. Dia membenamkan tubuhnya di kasur, dia tak ingin hari ini berlalu, ada banyak tawa hari ini dengan Aga. Dia teringat kejadian setahun yang lalu, sebelum dia berlari ke taman kota, sebelum Dino mengetahui apa yang terjadi padanya. Dia ingin kembali mengguyur tubuhnya bila dia ingat siapa yang mengotori tubuhnya. Hingga detik ini Chacha tak ingin menyebutnya dengan sebuatan ’ayah’. Ayah tiri yang membuat hidupnya hancur dan menjadi seorang pekerja seks.

Chacha terbangun dari lamunannya ketika ponselnya berbunyi, satu panggilan dari Aga.

”Ga, kita kan baru ketemu, ada apa?” Telepon di seberang hanya diam. ”Ga…..? Aga…? halo…?”

”Cha… aku sayang kamu.” Suara Aga sedikit bergetar, beberapa detik setelah Aga bicara terdengat suara ledakan yang membuat hubungan ponsel terputus. Jantung Chacha berdetak dua kali lebih capat dari sebelumnya. Perasaan aneh itu terjawab, sesuatu terjadi pada Aga, ya sesuatu telah terjadi pada Aga. Chacha mengambil Sweternya di balik pintu dan berlari keluar kamar. Chacha berlari melewati gang gelap menuju jalan raya dan menyetop sebuah taksi. Pikirannya kacau, mencoba menebak apa yang terjadi sebenarnya pada Aga. Tak jauh dari kost Chacha, dia melihat banyak orang berkerumunan di dekat dua mobil yang terbakar. Chacha menghentikan taksinya, berlari menuju kerumunan orang itu, Chacha hanya bisa menganga saat melihat plat mobil DK 1585 AG, plat mobil milik Aga. Air mata mengalir membasahi pipi Chacha.

”AGGAAAA………..!!!!” Chacha menangis sejadi jadinya, perasaannya hancur, kematian yang dia lihat bukan kematiannya melainkan kematian Aga, orang yang dia cintai.

***

Setiap orang pasti menemui kematiannya, entah kapan?, hanya waktu yang akan menjawab. Dan setiap orang punya batasan waktu dalam hidupnya, dan ketika waktu itu habis, seseorang yang mencintainya akan menangis meneriakkan namanya.

Chacha berdiri disebuah karang besar di tepi pantai, pantai tempat pertama kalinya dia bertemu dengan Aga. Chacha menangis menatap langit hitam dengan begitu banyak butiran gerimis yang jatuh di wajahnya, dia merasakan dingin yang menusuk nusuk ke hatinya. Aga tak lagi ada di hari-harinya.

”Ga …, kamu pernah janji sama aku, kamu nggak akan ninggallin aku, kamu akan selalu di sampingku, sampai waktuku habis. Kenapa kamu pergi ninggalin aku lebih dulu…?? Aga kembali…. kembali…. kembali… Ga!!” Chacha tak bisa menahan isaknya, dadanya terasa sakit.

’Ya… ini yang aku rasakan saat ini. Perih yang hanya mengundang tangis… Dan malam ini aku menatap butiran demi butiran gerimis yang membasahi tubuhku. Aku bisa rasakan butiran gerimis yang menusuk tubuhku, aku hanya bisa duduk diam sambil menunggu kematianku. Hanya tangis di sisa hidupku.’

Chacha memandang cincin emas putih di jarinya, pemberian Aga, saat hari kematiannya. Hari ini hanya ada sebuah kenangan di hidup Chacha, raganya tak kuat lagi menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya, juga di hatinya. Dia lelah, bila harus menangis di sisa hidupnya. Chacha dapat merasakan darah segar mengalir di hidung dan mulutnya, tubuhnya semakin lemah, hingga dia menidurkan raganya dikarang pantai. Gerimislah saksi kematiannya, tak seorangpun tau bahwa kematiannya diiringi dengan sejuta luka.

 

 

AIDS bukan hanya merenggut nyawa, tapi juga mengubah kisah yang sebenarnya indah, menjadi pedih. Dan ketika orang terdekat terinfeksi AIDS barulah kita sadar, AIDS ada di sekitar kita, padahal sudah berapa nyawa yang hilang dan berapa kisah yang seharusnya menyenangkan menjadi menyedihkan.

7 Responses to Cewek Pekerja Seks

  1. okanegara says:

    wangi, ceritanya bagus sekali, menyentuh…tragis. oya, sekedar masukan sedikit buat perbaikan cerpennya, mungkin penggambarannya agak berbeda sedikit ya kalau di Bali.karena untuk tes HIV perlu dilakukan konselin di awal dan di akhir, jadinya mungkin bila diketahui seseorang sudah HIV positif maka lewat konseling akan diarahkan untuk yang bersangkutan bisa melakukan aktivitas seksual yang aman dan menghindari penularan dan bahkan diberi rekomendasi pendamping. penggunaan kata AIDS yang berulang sepertinya lenih cocok diganti dengan HIV positif deh, memang ada disebutkan sakit-sakitan ya, tapi sepertinya masih bisa beraktivitas sehari-hari.kalau sudah AIDS kemungkinan besar akan minum obat ARV dan beberapa obat untuk infeksi oportunistiknya, yang di cerita ini tidak muncul.oke overall cool…

  2. widari says:

    huahauhaua…waktu aku ngebaca komennya dr.oks aku udah ngebayangin kayak acara TV ” Mama Mia”…
    apalagi pas kalimat terakhir…”overall cool”
    hihihihii…

    buat Wangie…
    terus Nulis ya…., nanti kita bikin buku kumpulan cerpen anak2 kisara….

  3. elfira says:

    huaaaaaaaaa…… keren
    untung gak nangis di warnet, kan buahaya…heheh

    wanngi hebat banget, tapi emnag ada yang sedikit ganjil sie, kan orang yang udah positif HIV untuk ke AIDS nya butuh waktu agak lama say, tapi gak apa…
    oke koq, uda sukses buat orang jadi pingin nangis.heehe
    terus berkarya ya buuuuuu……..

  4. dhiea says:

    wah,, ceritanya bagus banget…. runtut… jadi dimengerti… ga njelimet…

    terus nulis yah… Chaiyo…….

  5. chariems says:

    Wangi…
    Aku terharu banget baca NOVELnya… ampe aku mo Nangis Soalnya Aku Juga Pernah Merasakan Hal Yang sama Kaya’ Aga Mencintai Seseorang tapi Cepat Dipanggil Oleh NYa dan ADa Gantinya Tetapi… Yach dia Pemakai Obat Terlarang… Sedih Bangt..
    Wangi Terus Berkarya… Merdeka.

  6. tetap semangat.
    dan
    salam semangat 45

  7. Anonymous says:

    cewek pekerja sex

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: