Jerawat Aneh

by Sutarsa

Aku punya kebiasaan yang sangat aneh. Aku sering menghitung jumlah jerawat yang tumbuh di wajahku.
Anehnya lagi, setiap kali kuhitung jumlahnya selalu bertambah dan selalu ganjil.
Aku sangat kuatir, lama kelamaan wajahku akan berbintil-bintil, menyerupai monster yang mengerikan.
Kemana pun aku pergi, aku selalu membawa cermin,
setiap akan bertemu orang, aku akan mengeluarkan cermin, melihat jerawat-jerawat aneh di wajahku,
kuhitung seperti aku menghitung bintang, ternyata memang aneh: jumlahnya selalu ganjil.

Namaku Nilam. Aku adalah gadis belia 17 tahun. Saat ini aku kelas 2 SMU. Aku dipanggil ratu cermin oleh semua orang. Gantungan – gantungan mungil di hp-ku adalah cermin. Di sisi luar tas sekolahku juga kutempeli cermin bulat. Kotak pensil yang kupilih adalah yang memiliki cermin di bagian dalamnya, jadi setiap kali kubuka dan mengambil pulpen, aku bisa bercermin dan menghitung jerawatku. Rautan pencil merah kecil bulat, dengan cermin akan selalu ada di saku bajuku. Di dinding kamar sebelah kiri, aku meletakkan cermin bundar yang besar, dipinggirnya dibalut dengan pernak pernik segitiga warna-warni. Disebelahnya adalah tempatku biasa menggantung tas, jadi setiap kali aku pulang sekolah, aku tidak akan pernah lupa menyapa cerminku, tapi dia terlalu jujur dan selalu begitu. Dia tidak pernah menghiburku, dia juga tidak pernah menyembunyikan sebutirpun jerawatku. Cermin ini jauh lebih jujur dari ibuku, dari guru-guruku di sekolah, bahkan dia lebih jujur dari para pejabat pemerintahan. Seandainya mereka mau bercermin pada cerminku, maka mereka akan terlihat bugil dan hatinya akan menganga. Di dinding kamarku sebelah kanan kuletakkan sebongkah cermin kotak yang dibingkai kayu jati berukuran satu meter kali satu meter. Disebelahnya adalah meja belajar dan lemari pakaianku, jadi setiap aku hendak belajar atau mengambil pakaian, benda pertama yang kulirik adalah cermin itu: kudekatkan wajahku, terlihat jerawatku yang merah, kuhitung perlahan, jumlahnya tiga belas, padahal tadi pagi jumlahnya sebelas: aneh selalu bertambah dan selalu ganjil. Di atas meja belajar aku juga meletakkan sederetan cermin. Mereka semua adalah temanku, mereka selalu setia dengan kejujurannya, mereka tidak pernah mengeluhkan tentang kebiasaan anehku, yang terpenting mereka tidak takut, mereka juga tidak pernah menghinaku.

***

“Kamu pasti punya kebiasaan yang buruk, senang mengintip orang mandi di sungai. Kalau tidak, mana mungkin anak seusiamu sudah memiliki bisul merah di jidat. Anak kelas 6 SD tidak akan mengalaminya, kamu pasti sedang dihukum oleh Tuhan. Kamu lihat saja wajah Mena, tidak tampak satupun bisul di wajahnya. Wajahnya halus dan bersih. Itulah bukti kalau orang-orang yang tawakal akan disayangi oleh Tuhan. Setiap kali ada pengajian, dia yang paling awal datang, menggunakan kerudung, dan dia sangat fasih melafalkan huruf-huruf gaib dalam kitab suci.” Ayahku, seorang pendakwah menghakimiku dengan hukuman mati, tidak ada pengacara, tidak ada pembelaan. Semua perkataannya adalah maklumat. Ibuku, adalah istri yang patuh. Semua perkataan ayah adalah kewajiban, sampai ibu melupakan haknya sebagai perempuan dan sebagai istri. “Aku mengeluarkan darah, aku sangat takut. Ayah akan mengurungku lagi. Apa yang sebenarnya terjadi padaku. Awalnya bisul kecil yang tumbuh di kening, semakin hari semakin bertambah banyak, seminggu kemudian aku mengeluarkan darah, perutku terasa diplintir, perih melilit. Harus kuadukan pada siapa semua kegundahanku ?”

Ibu, aku harus mengadu pada ibu. Aku yakin ibulah yang memahami semua hal yang sedang aku alami. Ini semua karena ibu adalah perempuan, dan aku juga perempuan. Ibu menuntunku kedalam kamar.

“Kamu sudah dewasa anakku. Kamu sudah datang bulan pertama kali. Kamu harus lebih hati-hati merawat kelaminmu. Jangan sampai ayahmu tahu”. Tapi mengapa aku mengeluarkan darah dari kelaminku. Mengapa di wajahku juga tumbuh bisul-bisul kecil.

***

Aku sudah mengunjungi banyak dokter kulit. Tapi hasilnya tetap sama, jerawatku selalu bertambah saat kuhitung, dan jumlahnya selalu ganjil. Aku telah menjejali tubuhku dengan Doksisiklin selama lebih dari satu tahun, aku juga telah melakukan ritual sebelum tidur untuk membuatnya berhenti tumbuh, namun semuanya belum berhasil. Walaupun aku sudah terbiasa ditertawakan karena mukaku yang berjonjot-jonjot, tetap saja aku merasa malu dan aku kehilangan diriku sendiri. Di setiap aliran saraf wajahku sekarang bersarang jerawat. Mereka menggigit ujung saraf sensoris dan aku merasakan nyeri yang mengerang-erang. Mereka semakin hari semakin ganas, sementara aku semakin hari semakin meranggas. Apakah aku memang dihukum oleh Tuhan, tapi karena alasan apa Tuhan menghukumku. Semua teman semakin menjauh. Aku semakin kesepian. Aku hanya ditemani oleh cermin bulat yang melekat erat di rautan pensil. Aku telah membawanya bertahun-tahun. Ini adalah rautan pensil pertama yang kupunya. Aku dibelikan oleh ibuku saat aku menjadi siswa sekolah dasar. Cermin ini pula teman cerita yang paling kupercayai. Dia tidak pernah mengeluh akan semua gundahku. Bahkan saat aku dikurung di gudang karena aku mengalami menstruasi, dialah yang dengan setia menemaniku. Aku selalu membawanya dikantongku. Dia dengan jelas mengetahui bagaimana ayahku menabukan perubahan-perubahan remaja yang terjadi secara alamiah. Dia menjadi saksi bagaimana mitos-mitos menggerogoti pikiran ayahku. Dia adalah saksi kecil pernikahan Mena di usia 14 tahun karena telah hamil tiga bulan. Dia adalah saksi penyesalan ayahku melihat anak didiknya yang sangat dibanggakan menikah diusia belia, terlebih karena hamil diluar pernikahan. Dia adalah saksi dari semua jerawat-jerawat yang muncul di wajahku. Jika malam datang, aku dengan cepat akan menyelipkannya dibawah bantal. Aku ingin dia juga melihat mimpiku. Dia adalah cermin rahasiaku.

Perjalanan demi perjalanan ternyata membawaku ke rumah angin, sebuah rumah kecil beratap langit di sebuah taman bambu yang tak pernah kukenal sebelumnya. Aku menginjak rumput-rumputnya, mereka menusuk kakiku pelan-pelan, mereka ingin menggodaku tetapi tidak ingin menyakitiku. Batang-batang bambu bergelutan erat, saling merangkul, saling memiliki, saling berbagi, lalu daun-daunnya jatuh diterbangkan angin. Di tengah-tengahnya ada kolam kecil yang ditumbuhi bunga teratai raksasa, daunnya sebesar nampan hingga para biksu dan pertapa dapat duduk diatasnya. Bunganya menjulang dengan tangkai panjang, menjulang ingin menggapai langit. Sedangkan aku berdiri di atas rumah angin, terbentang ke semua penjuru. Di ujung timur aku melihat matahari tersenyum, di ujung barat aku melihat bulan yang murung. Aku tetap menggenggam cermin kecilku. Tapi kali ini dia bergerak dan dia meronta. Aku membuka kepalan, cermin kecilku meloncat keluar dengan sepasang sayap segitiga berwarna kuning emas. Aku sangat terkejut, apakah aku bermimpi? Kamu tidak sedang bermimpi Nilam. Inilah rumah angin, rumah bagi siapapun yang sedang kesepian. Kamu memanggilku setiap kali menjelang tidur. Maka hari ini aku hadir membawamu ke rumah angin. Aku tahu keinginan terbesarmu adalah wajah yang mulus tanpa jerawat satupun. Aku akan mewujudkannya untukmu.

Ayo ikuti aku Nilam. Aku akan mengajarimu sembuh. Lihat di depan sana. Ada cermin bulat yang kau letakkan di sebelah dinding kamarmu. Aku yang menyuruhnya hadir di rumahmu, aku tidak ingin melihatmu sedih dan murung, maka aku mengutusnya ke rumahmu. Kamu tahu kenapa si bulat besar yang kuutus ? Karena dia adalah cermin wajah yang paling jujur. Dia sangat mengenal ratusan bahkan ribuan jenis ekspresi wajah. Dia juga sangat memahami hubungan antara mata dan lidah. Jika lidah berbohong, maka sinar mata akan meredup. Dia sangat memahaminya dengan sempurna. Dia mengenal banyak jenis jerawat, ada jerawat cinta, jerawat stress, jerawat batu, dan berbagai macam jerawat lainnya. “Lalu jerawatku termasuk jenis yang mana ?” Kamu tidak pernah menanyakan itu kepada cermin bulat besar, kamu lebih percaya kepada si kimia dan si salep, padahal kamu punya kekuatan untuk membunuh jerawat tepat dari sarangnya.

Ayo ikuti aku Nilam. Aku akan mengajarimu menjadi kuat. Lihat disamping sana. Ada cermin kotak yang kau letakkan di antara lemari pakaian dan meja belajarmu. Aku juga yang menyuruhnya hadir di rumahmu. Dia adalah cermin hati yang paling mulia. Dia melihat caramu berdiri, maka ia tahu kamu bersedih. Dia sangat memahami hubungan antara wajah dan hati. Jika wajahmu tersenyum, ia tahu kalau hatimu juga bersenang. Dia melihat caramu mengeluh tentang wajahmu yang berbintil, ia sangat mengerti. Dia melihat caramu menatapnya, dia menampilkanmu tidak seperti yang kau mau, tetapi menunjukkan kau yang sejati : muka yang berbintil kasar, rambut keriting bergelombang seperti arus sungai yang linglung, mata yang bulat menganga, bibir yang tipis kemerahan, dada yang ramping. Dia tahu kau membayangkan wajah yang halus dan bersih, tapi dialah kejujuran, dialah cermin dirimu yang sesungguhnya. Saat kau menatapnya, kau akan menatap diri sendiri, saat kau menghujatnya, kau sedang menghujat diri sendiri, saat kau mencintainya, kau pun merasa hangat!

Jerawat di wajahmu bukanlah kutukan seperti yang kau kira. Itu adalah hasil dari yang kau pikirkan. Kau memintanya terus menerus, kau memikirkan jumlahnya terus menerus, maka mereka mewujudkannya seketika. Semakin hari wajahmu semakin ramai, jumlahnya semakin banyak, dan tentu saja selalu ganjil seperti yang kau pikirkan. Jerawatmu hanyalah proses alamiah yang wajar! Hormon-hormon tubuhmu juga bersekutu, kotoran yang menutupi pori-pori, sabun muka, dan kelelapan yang sangat, semua bersekutu untukmu, mewujudkan apa yang kau pikirkan tentang jerawat. Maka wajahmu semakin hari semakin ramai, jumlahnya bertambah banyak, dan tentu saja selalu ganjil. Aku dan kedua cermin besar adalah saksi tentang kegelisahanmu. Aku mendengar semua kata yang kau pikirkan. Aku menjawabnya setiap kali kau bercermin : saat muka mendekat, aku menyulap semuanya menjadi seperti yang kau pikirkan, mukamu semakin ramai, jumlahnya semakin banyak, dan tentu saja selalu ganjil. Saat kau pulang ke rumah, kau membawa ucapan temanmu di kepala “hahaha… mukamu berjonjot-jonjot, semakin lama kau akan semakin berbintil, coba saja kau hitung jerawat di mukamu, pasti jumlahnya terus bertambah” Cermin bulat besar akan menjawab semua kata di pikiranmu seperti yang kuperintahkan untuknya. Dia menjawabnya setiap kali kau mendekatkan wajahmu, dia menyihir wajahmu seperti yang kau pikirkan, mukamu semakin ramai, jumlahnya semakin banyak, dan tentu saja selalu ganjil. Dia menyiratkan kegundahan dan rasa putus asa yang ditangkap lewat matamu. Saat kau berganti pakaian, kau memikirkan sensasi tanganmu saat membasuh wajah “mukaku penuh bisul, penuh jerawat, mengapa jumlahnya tidak pernah berkurang, aku sudah menggunakan sabun muka khusus, sabun anti jerawat, tapi tetap saja jerawatku tidak pernah berkurang, malah semakin bengkak dan semakin banyak” Cermin hati menangkap rasa yang kau pancarkan, ia membaca setiap kata pikiranmu, dan ia menjawabnya saat kau mendekatkan wajahmu, sama seperti yang kau pikirkan, mukamu semakin ramai, jumlahnya semakin banyak, dan tentu saja selalu ganjil. Dia memantulkan kesedihan dan rasa tidak percaya diri yang ditangkap dari caramu berdiri!

Aku adalah cerminmu, aku bernyawa karenamu. Aku akan tetap jujur. Jika kau membenciku karena kejujuranku, pecahkan saja semua cermin-cermin itu. Aku memahamimu seperti kau memikirkan jerawatmu.

Aku masih menggenggam rautan pensilku dengan erat. Dia masih utuh, aku mendekatkan wajahku dan menghitung jerawatku: syukurlah hari ini mereka tidak bertambah banyak, dan jumlahnya kali ini genap.

5 Responses to Jerawat Aneh

  1. okanegara says:

    sebuah penceritaan masa puber yang sangat cerdas.kak sutarsa pintar sekali bermain dan menganyam kata.lihat saja nanti blog nya kak sutarsa bakal ramai.

  2. luhde says:

    jeg luung sajan. bagus banget kalo semua persoalan remaja yang dikumpulin kisara bisa dishare dengan kreatif kaya gini. penyuluhan bosennnn

  3. Sutarsa says:

    Bli Oka dan Mbok Luhde terlalu mendramatisir hahaha….
    memang seharusnya semua cerita-cerita mengenai seksualitas, kesehatan reproduksi remaja, ataupun problematika remaja lainnya bisa dikemas dalam bentuk cerita pendek seperti ini. Harapannya ke depan Kisara bisa melahirkan antologi cerpen yang bertemakan seksualitas, kespro, ataupun tema-tema lainnya. Kontribusi dari semua teman-teman sangat diperlukan.

  4. via says:

    sumpeh…keren euy!!!!!

  5. elfira says:

    kak….
    aku juga mau komen…hehehe
    bagus, cuma waktu dulu aku baca, aku kan lagi jerawatan, jadi sensi gimana gitu ama ceita and jerawatku..hahaha
    keren kak, seperti kata dr.oks kata2nya keren, buat pembaca butuh ruang dan waktu untuk mengerti ceritanya…
    viva kisara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: