Jerawat Aneh

October 8, 2008

by Sutarsa

Aku punya kebiasaan yang sangat aneh. Aku sering menghitung jumlah jerawat yang tumbuh di wajahku.
Anehnya lagi, setiap kali kuhitung jumlahnya selalu bertambah dan selalu ganjil.
Aku sangat kuatir, lama kelamaan wajahku akan berbintil-bintil, menyerupai monster yang mengerikan.
Kemana pun aku pergi, aku selalu membawa cermin,
setiap akan bertemu orang, aku akan mengeluarkan cermin, melihat jerawat-jerawat aneh di wajahku,
kuhitung seperti aku menghitung bintang, ternyata memang aneh: jumlahnya selalu ganjil. Read the rest of this entry »
Advertisements

Cewek Pekerja Seks

June 19, 2008

by WANGI

Chacha tertunduk, memandang amplop coklat yang ia genggam, air matanya masih menetes, dan membasahi sebagian amplop itu Beberapa kali Chacha memukul kepalanya ke dinding, rasa sakit itu menjalar sampai ujung kakinya, hampir seluruh tubuhnya sakit, dan hatinya juga ikut sakit. Chacha membaringkan tubuhnya di kasur dan mulai memejamkan matanya. Sesekali dia mengelap pipinya—menghapus air matanya dengan telapak tangannya.

Di kamar itu hanya ada tempat tidur kecil dan lemari pakaian yang sudah sangat tua. Dan ada banyak sekali kartu nama yang berserakan dilantai dekat kasur. Hampir semuanya milik laki-laki, mulai dari pengusaha mebel, pengusaha mobil, pejabat negara, manager, marketing dan masih banyak lagi yang tertumpuk rapi dengan posisi terbalik. Hampir sebagian yang bisa terlihat adalah katu nama milik pengusaha kaya. Kamar itu kecil berukuran 4×4 meter yang ia sewa dengan uang hasil pekerjaan kotornya.

Dia tak seberuntung gadis-gadis lainnya yang bisa menikmati masa remajanya dengan tawa, atau dengan hal-hal yang menyenangkan. Yang dia pikirkan hanya, bagaimana dia bisa terus menyambung hidupnya—memperoleh sesuap nasi dan tempat tinggal. Dia tau apa yang dia lakukan barusan, menambah dosa baru pada catatan dosanya, tapi persetan dengan dosa-dosa yang dia buat, ini kehidupan yang dia tempuh, jalan yang Tuhan takdirkan dalam kehidupannya.

Chacha membuka matanya, memandang langit-langit kamarnya—tampak kotor dan berdebu—sudah hampir sebulan lebih dia tak memperhatikan kamar kostnya, bahkan baru malam ini dia bisa merasakan kembali kasurnya yang empuk. Pandangannya beralih ke amplop coklat yang sejak tadi ia genggam, Read the rest of this entry »


Untuk Sahabat

May 16, 2008

by HARUMI

“Nan, kenapa sih belakangan ini kamu keliatannya sibuk banget. Kita deket, tapi aku ngerasa kamu jauh banget. Sudah berapa kali kita ngga jadi pergi. Dan kamu selalu ngga ada waktu, bahkan untuk menelponku semenitpun.” cerocosku ketika akhirnya aku bisa bertemu dengan Danan setelah seminggu ini tidak bisa bertemu.

”Maaf ya sayang, aku bener-bener sibuk banget. Banyak yang mesti kukerjain” Danan berusaha membela diri. Dan buru-buru aku sanggah lagi, ”Sibuk apa Nan? Kenapa ngga pernah cerita ke aku. Kamu anggep aku batu ya. Setidaknya kabari aku apa yang kamu kerjain seharian, supaya aku bisa ngerti Nan. Kita baru jalan 6 bulan dan belum saling ngerti satu sama lain. Dan gimana aku bisa ngerti kalo kamu ngga cerita.Selalu masalah ini yang muncul. Aku capek kalo terus-terusan kayak gini, Nan. Kalo kayak gini aku ngerasa ngga ada artinya, Nan. Aku sedih banget dengan sikap kamu, Nan.” Read the rest of this entry »


Gerimis…

May 5, 2008

by WANGI

Laki-laki itu berjalan melewati jalanan kerikil dekat pemakaman, tubuhnya terlihat kurus dengan baju kedodoran yang menempel di tubuhnya. Dia memetik beberapa bunga liar yang tumbuh di sekeliling pagar pemakaman, dan merangkainya hingga menjadi sebuah karangan bunga. Sesekali ia mengusap keringat di keningnya. Ada kesedihan di mata laki-laki tua itu, terlihat dari caranya menatap satu per satu batu nisan yang berjejer rapi di pemakaman itu.

Laki-laki itu menyelinap memasuki area pemakaman, dengan menyeret kedua kakinya yang ditopang dengan tongkat kayu. Ada bungkusan kecil di tangannya, bungkusan merah dengan renda bunga di pinggiranya, dan sebuah surat yang ia jepit dengan kedua bibirnya. Dia menatap keatas, Gerimis menimpa wajah keriputnya. Dia berjalan menuju pojok pemakaman, tatapannya kosong menerawang ke depan.

Laki-laki tua itu menatap batu nisan di hadapannya, ada banyak rumput liar basah yang memenuhi pemakaman, masih terlihat jelas nama yang terukir di batu nisan itu. “Domina” air mata mengalir membasahi mata cekung laki-laki tua itu. Sampai dia tengkurap memeluk gundukan tanah kuburan di hadapannya. Sesuatu merasuki memorinya, dia teringat seseorang yang menjadikannya laki-laki pincang yang hanya tinggal menunggu kematian.

Domina… wanita itu yang menghancurkan kehidupannya. Membuatnya hancur berkeping-keping, hingga kepingan demi kepingan tak bisa lagi terkumpul secara utuh, dan Domina satu-satunya orang yang dia cintai hingga detik ini, tiga puluh tahun setelah kematian Domina.

Tiga puluh tahun sejak hatinya mulai berserakan. Kecelakaan itu yang telah mengambil kaki kanannya, dan juga cintanya. Laki-laki itu tak pernah berharap itu terjadi padanya, apalagi pada malam pernikahannya, dan semenjak saat itu, dia selalu dibayang-bayangi rasa bersalah terhadap keluarga Domina. Read the rest of this entry »