Cewek Pekerja Seks

June 19, 2008

by WANGI

Chacha tertunduk, memandang amplop coklat yang ia genggam, air matanya masih menetes, dan membasahi sebagian amplop itu Beberapa kali Chacha memukul kepalanya ke dinding, rasa sakit itu menjalar sampai ujung kakinya, hampir seluruh tubuhnya sakit, dan hatinya juga ikut sakit. Chacha membaringkan tubuhnya di kasur dan mulai memejamkan matanya. Sesekali dia mengelap pipinya—menghapus air matanya dengan telapak tangannya.

Di kamar itu hanya ada tempat tidur kecil dan lemari pakaian yang sudah sangat tua. Dan ada banyak sekali kartu nama yang berserakan dilantai dekat kasur. Hampir semuanya milik laki-laki, mulai dari pengusaha mebel, pengusaha mobil, pejabat negara, manager, marketing dan masih banyak lagi yang tertumpuk rapi dengan posisi terbalik. Hampir sebagian yang bisa terlihat adalah katu nama milik pengusaha kaya. Kamar itu kecil berukuran 4×4 meter yang ia sewa dengan uang hasil pekerjaan kotornya.

Dia tak seberuntung gadis-gadis lainnya yang bisa menikmati masa remajanya dengan tawa, atau dengan hal-hal yang menyenangkan. Yang dia pikirkan hanya, bagaimana dia bisa terus menyambung hidupnya—memperoleh sesuap nasi dan tempat tinggal. Dia tau apa yang dia lakukan barusan, menambah dosa baru pada catatan dosanya, tapi persetan dengan dosa-dosa yang dia buat, ini kehidupan yang dia tempuh, jalan yang Tuhan takdirkan dalam kehidupannya.

Chacha membuka matanya, memandang langit-langit kamarnya—tampak kotor dan berdebu—sudah hampir sebulan lebih dia tak memperhatikan kamar kostnya, bahkan baru malam ini dia bisa merasakan kembali kasurnya yang empuk. Pandangannya beralih ke amplop coklat yang sejak tadi ia genggam, Read the rest of this entry »

Advertisements