Gerimis…

May 5, 2008

by WANGI

Laki-laki itu berjalan melewati jalanan kerikil dekat pemakaman, tubuhnya terlihat kurus dengan baju kedodoran yang menempel di tubuhnya. Dia memetik beberapa bunga liar yang tumbuh di sekeliling pagar pemakaman, dan merangkainya hingga menjadi sebuah karangan bunga. Sesekali ia mengusap keringat di keningnya. Ada kesedihan di mata laki-laki tua itu, terlihat dari caranya menatap satu per satu batu nisan yang berjejer rapi di pemakaman itu.

Laki-laki itu menyelinap memasuki area pemakaman, dengan menyeret kedua kakinya yang ditopang dengan tongkat kayu. Ada bungkusan kecil di tangannya, bungkusan merah dengan renda bunga di pinggiranya, dan sebuah surat yang ia jepit dengan kedua bibirnya. Dia menatap keatas, Gerimis menimpa wajah keriputnya. Dia berjalan menuju pojok pemakaman, tatapannya kosong menerawang ke depan.

Laki-laki tua itu menatap batu nisan di hadapannya, ada banyak rumput liar basah yang memenuhi pemakaman, masih terlihat jelas nama yang terukir di batu nisan itu. “Domina” air mata mengalir membasahi mata cekung laki-laki tua itu. Sampai dia tengkurap memeluk gundukan tanah kuburan di hadapannya. Sesuatu merasuki memorinya, dia teringat seseorang yang menjadikannya laki-laki pincang yang hanya tinggal menunggu kematian.

Domina… wanita itu yang menghancurkan kehidupannya. Membuatnya hancur berkeping-keping, hingga kepingan demi kepingan tak bisa lagi terkumpul secara utuh, dan Domina satu-satunya orang yang dia cintai hingga detik ini, tiga puluh tahun setelah kematian Domina.

Tiga puluh tahun sejak hatinya mulai berserakan. Kecelakaan itu yang telah mengambil kaki kanannya, dan juga cintanya. Laki-laki itu tak pernah berharap itu terjadi padanya, apalagi pada malam pernikahannya, dan semenjak saat itu, dia selalu dibayang-bayangi rasa bersalah terhadap keluarga Domina. Read the rest of this entry »